Thunderbird awalnya merupakan legenda suku indian di amerika, aneh nih.. Bukannya orang indian tu di india?? Tapi thunderbird juga dikategoriin ke cryptoid baru-baru ini..
Thunderbird punya banyak sebutan antara lain, wakiya, kw-unhw-wa, animiiki, ba’a, chequah dan piasa..
Menurut para saksi, thunderbird punya sayap sepanjang 15-20 kaki, kakinya 4-8 kaki, warnanya beragam, punya 2 tanduk dan bergigi tajem di paruhnya.. Thunderbird terkenal galak, ganas, brutal, sadis, mematikan, buas, harits, etc.. Jadi kalo ada sesosok burung gede lagi terbang di atas perkampungan indian, niscaya kampung mereka bakal pindah 50km dari lokasi semula..
Quillayute Indians bilang gini:
Thunderbird is a very large bird, with feathers as long as a canoe paddle. When he flaps his wings, he makes thunder and the great winds. When he opens and shuts his eyes, he makes lightning. In stormy weather, he flies through the skies, flapping his wings and opening and closing his eyes. Thunderbird’s home is a cave in the Olympic Mountains, and he wants no one to come near it. If hunters get close enough so he can smell them, he makes thunder noise, and he rolls ice out of his cave. The ice rolls down the mountainside, and when it reaches a rocky place, it breaks into many pieces. The pieces rattle as they roll farther down into the valley. All the hunters are so afraid of Thunderbird and his noise and rolling ice that they never stay long near his home. No one ever sleeps near his cave. Thunderbird keeps his food in a dark hole at the edge of a big field of ice and snow. His food is the whale. Thunderbird flies out of the ocean, catches a whale and hurries back to the mountains to eat it. One time Whale fought Thunderbird so hard that during the battle, trees were torn up by their roots. To this day there are no trees in Beaver Prairie because of the fight Whale and Thunderbird had that day.
Suku indian percaya kalo thunderbird itu hewan suci yang dikirim Tuhan buat melindungi mereka..
Oia, thunderbird sering keliatan lo..
Penampakan thunderbird yang pertamax tercatat terjadi tau 1890 di arizona.. Konon 2 koboi menembak jatuh burung raksasa yang melintas di langit, burung itu lantas jatuh di perkotaan.. Pada April 26, 1890 Tombstone Epigraph menulis kalo burung raksasa itu memiliki sayap sepanjang 160 kaki, panjang tubuhnya 92 kaki dan kepalanya 8 kaki.. Dituliskan kalo kepala burung misterius itu mirip buaya dan tidak berbulu.. Menurutku itu kaya pterodactyl deh..
Taun 1963, Jack Pearl menghidupkan lagi legenda thunderbird, dia menulis di majalah saga bahwa berita di epigraph taun 1890 itu asli, dan dia bilang dia punya bukti foto yang ngegambarin burung raksasa dipaku di dinding dan ada 6 koboi ngerentangin tangannya untuk mengukur panjang burung itu..Sayangnya ga ada yang bisa mengkopi gambar itu..
Laporan yang paling kontroversial terjadi 25 Juli 1977 di Lawndale, Illinois. Pada pukul 9:00 tiga anak laki-laki bermain di halaman belakang rumah. Tiba-tiba 2 burung besar mendekat, dan mengejar mereka. Dua anak laki-laki lolos, tetapi yang ketiga, Marlon Lowe, tidak. Salah satu burung misterius itu menjepit dan mengangkatnya sekitar setinggi 30 meter. Dengan memukul-mukul burung itu, burung itu akhirnya melepaskannya. Anak itu ga terluka,tapi mengalami trauma yang amat sangat..
Pada 13 Juni 2001, penduduk Greenville, terkejut dengan penampakan objek besar berwarna keabuan di langit, pada mulanya penduduk mengira itu adalah pesawat kecil atau pesawat ringan. Setelah diamati 20 menit, dengan jelas terlihat kalo makhluk berbulu dengan lebar sayap sekitar 15 meter dan panjang tubuhnya sekitar 5 kaki. Burung ini pun terlihat bertengger di pohon selama minimal 15 menit sebelum terbang ke arah selatan. Seorang tetangga dari saksi ini mengaku melihat makhluk itu pada hari berikutnya, dan menggambarkannya sebagai “burung terbesar yang pernah saya lihat.”
Kurang dari sebulan kemudian, pada 6 juli, di Erie County, Dilaporkan penampakan makhluk yang mirip, menurut majalah Times Fortean. Sekali lagi, lebar sayap makhluk itu diperkirakan 15-17 meter dan digambarkan berwarna abu-abu dengan leher sedikit atau tidak ada, dan lingkaran hitam di bawah kepala. Paruh-nya sangat tipis dan panjang – sekitar satu kaki panjangnya.”
Pada selasa, 25 September 2001, anak muda berumur 19 tahun mengaku telah melihat makhluk besar bersayap yang terbang di atas Route 119 di South Greensburg, Pennsylvania.
Pada tahun 2002, ada penampakan makhluk seperti burung besar, kira-kira sebesar pesawat Cessna, dilaporkan di Alaska. Para ilmuwan bilang burung raksasa mungkin cuma elang steller.
Pada tahun 2004, seorang siswa SMA lagi jalan ke kelas dari lapangan sepak bola di Southern California saat burung besar, membayang di langit dan terbang menuju pinggiran kota. Anak itu menyatakan bahwa dari burung itu keliatan kaya seekor burung gagak berukuran gede dan terbang dua puluh meter tingginya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makhluk terbang dilaporkan memiliki lebar sayap ratusan kaki. Nah.. Ini baru mirip sama penggambaran thunderbird..
Kalo thunderbird beneran eksis, maka uda pasti dia bakal dinobatkan sebagai burung terbesar di dunia.. Tapi sejauh ini, paling ga di jaman modern ini ga ada burung segede itu yang ketangkep.. Saat ini diketahui kalo burung darat terbesar adalah burung unta dan burung terbang yang tergede itu elang botak..
Angelo P. Capparella, seorang ahli ilmu burung di Illinois State University, berpendapat bahwa burung besar yang bisa ditemukan adalah sangat tidak mungkin, setidaknya di Amerika Utara. Tidak ada cukup makanan dan ga ada tempat meletakkan telur yang memadai..
Para skeptis juga kompakan dan berkata kalo burung segede itu ga bakal mampu terbang..
Yang paling nyerempet dengan diskripsi thunderbird itu cuma burung kondor ailornis, burung kondor ini punya sayap selebar 5 meter.. Terakhir terlihat taun 1909, sekarang mungkin uda punah..
The Atmospheric Beast
Atmospheric beast adalah organisme tidak bersayap yang tinggal di atmosfer suatu planet. Mereka terbang atau melayang tanpa sayap dikarenakan mungkin berat mereka lebih ringan dari udara.juga dikatakan tubuh mereka tidak padat.
penampakan
salah satu Penampakan makhluk ini yang paling terkenal adalah sebagai Crawfordsville Monster,monster di daerah Indiana pada tahun 1891.sampai saat ini hanya ada dua penampakan makhluk ini dan keduanya pada abad ke-19. pertama kali kasus ini dipublikasikan oleh indianapolis journal. penampakan pertama terjadi pada pukul 2 pagi tanggal 4 september 1891 "hantu mengerikan" muncul di langit,ketika dua pria yang sedang bekerja di mobilnya melihatnya. mereka memperkirakan makhluk itu berada 100 kaki di udara,panjangnya 20 kaki dan lebar 8 kaki.dan terlihat hidup!dia mendorong dirinya dengan beberapa pasang sirip dan mengelilingi rumah sekitar. tetapi,makhluk itu menghilang setelah pergi ke timur. akan tetapi,tidak hanya mereka yang melihat makhluk mengerikan itu,seorang metodis Rev.G.W. Switzer dan istrinya juga melihat makhluk yang sama. makhluk itu ternyata kembali pada saat malam hari ,dan kali ini dengan banyak saksi mata. dikatakan makhluk itu seperti sedang menggelepar kesakitan pada ketinggian 300 kaki.juga mengeluarkan suara aneh.
apakah makhluk itu benar-benar atmospheric beast? atau makhluk aneh lainnya?
selain itu ada juga peristiwa yang dikira pebuatan makhluk tersebut...
peristiwa lainnya yang dianggap perbuatan atmospheric beast atau yang biasa disebut atmospheric jellyfish...adalah
saat musim panas di tahun 1939 ketika salah satu pesawat angkatan udara amerika yang membawa 12 penumpang dan seorang kru dari markas militer di san diego,california. pesawat itu baru terbang sekitar satu jam sebelum mengirimkan panggilan darurat. setelah mengirim panggilan darurat ke markas,pesawat itu kembali ke markas di san diego. ketika seseorang tentara membuka bagian dalam pesawat itu,dia kaget melihat 12 penumpangnya meninggal juga pilotnya..pilot lainnya,adalah seseorang yang masih hidup tapi dia juga meninggal setelah beberapa menit. investigator tentara memeriksa mereka lalu, ketahuan bahwa ada bekas terbakar di kulit mereka. juga ditemukan bekas senapan di pintu keluar, mereka menyimpulkan para penumpang itu menembak makhluk tak terlihat yang sangat cepat.
berdasarkan peneliti amerika Charles fort,yang membuat buku The book of the damned. dia mengatakan ada makhluk seperti jeli yang tinggal di atmosfer bumi yang memiliki sengatan dan tentakel.
DESKRIPSI
makhluk atmosfer ini dikatakan bisa menurunkan berat jenisnya dan menjadi kecil
juga bisa membesar seperti awan. habitat mereka sepertinya adalah langit, ada yang mengatakan jika atmospheric beast mati,mereka akan jatuh dalam bentuk sesuatu yang kenyal yang biasa kita kenal sebagai star jelly. mereka sangat ringan. jika berdasarkan Crawfordsville Monster, makhluk ini memiliki mata merah menyala,tubuhnya seperti belut dengan beberapa sirip di pinggir ubuhnya.
ada juga yang menyatakan "jika mereka meningkatkan berat jenis mereka,mereka akan bisa terlihat" . beberapa orang menyatakan makhluk ini yang menculik dan memutilasi hewan ternak. dan sepertinya mereka punya hubungan dengan space jelly.
Apakah menurut kalian makhluk ini benar2 exist??
Dover demon cryptid from massasuchets
Hanya sedikit makhluk misterius yang bisa dihubungkan dengan dunia cryptozoology dan dunia ufology sekaligus. Dover Demon adalah salah satunya. Namun karena nama itu diberikan oleh seorang cryptozoologist, maka Dover Demon akhirnya lebih dikenal sebagai makhluk cryptid ketimbang alien.
gambar ini merupakan sketsa dari abby brabham
Tidak seperti Nessie yang terlihat selama rentang waktu sekitar 1.500 tahun, Dover Demon hanya terlihat selama 3 hari. Namun itu cukup untuk membuat makhluk ini masuk ke dalam daftar makhluk-makhluk cryptid paling misterius di dunia dan menjadi subjek penelitian cryptozoology yang cukup panjang hingga hari ini.
Perjumpaan Bill Bartlett
Semuanya bermula pada tanggal 21 April 1977, pukul 10:30 malam.
Saat itu, tiga orang pemuda berusia sekitar 17 tahun sedang mengendarai mobil di wilayah Massachusetts, Amerika Serikat. Bill Bartlett memegang kemudi sementara dua temannya yang lain asyik mengobrol.
Tiba-tiba, lampu mobil menyoroti satu sosok aneh.
Bill terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Semula ia mengira sedang melihat seekor anjing atau kucing, namun ia menyadari kalau makhluk itu tidak seperti yang disangkanya.
Tubuh makhluk itu tergolong aneh karena tidak proporsional dengan kepala besarnya yang terlihat seperti melon. Matanya bulat seperti kelereng, berwarna oranye dan terlihat bercahaya. Tangan dan kakinya sangat kurus dan panjang dihiasi dengan jari-jari yang sangat tipis.
Tetapi apa yang membuat Bill terkesima adalah penampilan wajahnya yang tidak biasa. Wajah itu rata, tanpa hidung, mulut atau telinga.
Walaupun tersorot oleh lampu mobil yang silau, makhluk itu sepertinya tidak peduli. Bill melihat ia merangkak dari dinding batu ke arah jalan raya dengan telapak tangannya yang tipis sebelum akhirnya menghilang di kegelapan malam.
Rekan-rekan Bill yang lain sedang sibuk berbicara satu sama lain sehingga tidak sempat melihat makhluk itu. Tetapi Bill tahu kalau ia tidak salah lihat - seekor makhluk aneh yang belum pernah dijumpainya sebelumnya.
Jadi, pada malam itu, makhluk yang di kemudian hari disebut Dover Demon tampil untuk pertama kalinya.
Beberapa jam kemudian, makhluk itu kembali muncul di hadapan saksi lainnya.
Perjumpaan John Baxter
2 jam kemudian, tidak jauh dari situ, John Baxter, 15 tahun, dan Pete Mitchell, 13 tahun, sedang berjalan pulang ke rumahnya sehabis mengunjungi rumah seorang teman.
Tiba-tiba, mata mereka tertuju kepada sebuah figur bertubuh kecil yang terlihat di kejauhan. John mengira figur itu adalah temannya yang bernama Bouchard yang juga bertubuh kecil. Jadi ia memanggil namanya.
Tidak ada respon. John dan Pete pun mendekat.
Sosok kecil itu kemudian berlari ke arah selokan, berhenti di samping sebuah pohon dan berdiri sesaat di situ. Pada saat itulah mereka berdua menyadari kalau figur itu bukan Bouchard.
"Makhluk itu berdiri pada jarak sekitar 15 kaki dari tempatku berdiri. Kami hanya berdiri disitu sambil memandanginya. Aku yakin kalau makhluk itu pun memandangiku." Kata John sambil mengingat peristiwa malam itu.
Beberapa saat kemudian makhluk itu menghilang ke arah hutan. John merasakan jantungnya berdetak dengan lebih cepat. Lalu ia berlari ke arah Farm Street dan pulang ke rumahnya. Malam itu ia menggambar sketsa makhluk yang dilihatnya dan sketsa itu ternyata mirip dengan sketsa yang juga digambar oleh Bill Bartlett.
Hari berikutnya, dua saksi lainnya kembali melihat makhluk itu.
Perjumpaan Abby Brabham
Pada pagi hari tanggal 23 April 1977, Will Traintor, 18 tahun, sedang menyetir di Springdale Avenue untuk mengantar pulang pacarnya yang bernama Abby Brabham, 15 tahun.
Sementara mobil melaju, tanpa sengaja Abby melihat satu makhluk aneh sedang berdiri di sisi kiri jalan raya.
Perjumpaan Bill Bartlett
Semuanya bermula pada tanggal 21 April 1977, pukul 10:30 malam.
Saat itu, tiga orang pemuda berusia sekitar 17 tahun sedang mengendarai mobil di wilayah Massachusetts, Amerika Serikat. Bill Bartlett memegang kemudi sementara dua temannya yang lain asyik mengobrol.
Tiba-tiba, lampu mobil menyoroti satu sosok aneh.
Bill terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Semula ia mengira sedang melihat seekor anjing atau kucing, namun ia menyadari kalau makhluk itu tidak seperti yang disangkanya.
Tubuh makhluk itu tergolong aneh karena tidak proporsional dengan kepala besarnya yang terlihat seperti melon. Matanya bulat seperti kelereng, berwarna oranye dan terlihat bercahaya. Tangan dan kakinya sangat kurus dan panjang dihiasi dengan jari-jari yang sangat tipis.
Tetapi apa yang membuat Bill terkesima adalah penampilan wajahnya yang tidak biasa. Wajah itu rata, tanpa hidung, mulut atau telinga.
Walaupun tersorot oleh lampu mobil yang silau, makhluk itu sepertinya tidak peduli. Bill melihat ia merangkak dari dinding batu ke arah jalan raya dengan telapak tangannya yang tipis sebelum akhirnya menghilang di kegelapan malam.
Rekan-rekan Bill yang lain sedang sibuk berbicara satu sama lain sehingga tidak sempat melihat makhluk itu. Tetapi Bill tahu kalau ia tidak salah lihat - seekor makhluk aneh yang belum pernah dijumpainya sebelumnya.
Jadi, pada malam itu, makhluk yang di kemudian hari disebut Dover Demon tampil untuk pertama kalinya.
Beberapa jam kemudian, makhluk itu kembali muncul di hadapan saksi lainnya.
Perjumpaan John Baxter
2 jam kemudian, tidak jauh dari situ, John Baxter, 15 tahun, dan Pete Mitchell, 13 tahun, sedang berjalan pulang ke rumahnya sehabis mengunjungi rumah seorang teman.
Tiba-tiba, mata mereka tertuju kepada sebuah figur bertubuh kecil yang terlihat di kejauhan. John mengira figur itu adalah temannya yang bernama Bouchard yang juga bertubuh kecil. Jadi ia memanggil namanya.
Tidak ada respon. John dan Pete pun mendekat.
Sosok kecil itu kemudian berlari ke arah selokan, berhenti di samping sebuah pohon dan berdiri sesaat di situ. Pada saat itulah mereka berdua menyadari kalau figur itu bukan Bouchard.
"Makhluk itu berdiri pada jarak sekitar 15 kaki dari tempatku berdiri. Kami hanya berdiri disitu sambil memandanginya. Aku yakin kalau makhluk itu pun memandangiku." Kata John sambil mengingat peristiwa malam itu.
Beberapa saat kemudian makhluk itu menghilang ke arah hutan. John merasakan jantungnya berdetak dengan lebih cepat. Lalu ia berlari ke arah Farm Street dan pulang ke rumahnya. Malam itu ia menggambar sketsa makhluk yang dilihatnya dan sketsa itu ternyata mirip dengan sketsa yang juga digambar oleh Bill Bartlett.
Hari berikutnya, dua saksi lainnya kembali melihat makhluk itu.
Perjumpaan Abby Brabham
Pada pagi hari tanggal 23 April 1977, Will Traintor, 18 tahun, sedang menyetir di Springdale Avenue untuk mengantar pulang pacarnya yang bernama Abby Brabham, 15 tahun.
Sementara mobil melaju, tanpa sengaja Abby melihat satu makhluk aneh sedang berdiri di sisi kiri jalan raya.
"Makhluk itu terlihat seperti seekor kera. Lalu aku melihat kepalanya dan menyadari kalau kepala itu terlalu besar dan aneh..Matanya berwarna hijau terang dan terlihat bersinar dan sepertinya sedang memandangiku."Makhluk itu menyentuh tanah dengan kedua tangan dan kakinya. Abby memperkirakan makhluk itu memiliki tinggi kurang lebih sama dengan seekor kambing. Deskripsi yang diberikan Abby sama dengan deskripsi yang diberikan Bill Bartlett. Bedanya, Abby menyebutkan kalau makhluk itu memiliki mata berwarna hijau terang, bukan oranye.
gambar ini merupakan sketsa dari abby brabham
Ketika laporan penampakan ini sampai ke pihak yang berwajib, Bartlett, Baxter, Brabham dan Traintor memberikan sketsa makhluk yang dilihat oleh mereka. Dan ketiga sketsa itu memperlihatkan makhluk yang serupa!
Untuk menegaskan kembali pengalaman itu, dalam sketsanya, Bill menuliskan satu kalimat: "Aku Bill Bartlett, bersumpah di atas Alkitab kalau aku benar-benar melihat makhluk itu."
Untuk menegaskan kembali pengalaman itu, dalam sketsanya, Bill menuliskan satu kalimat: "Aku Bill Bartlett, bersumpah di atas Alkitab kalau aku benar-benar melihat makhluk itu."
sketsa yang dibuat berdasarkan laporan bill bartlett
Tidak lama kemudian, kisah perjumpaan itu sampai ke telinga Loren Coleman, seorang Cryptozoologist ternama yang tinggal di daerah itu. Ia kemudian mengajak peneliti UFO bernama Walter Webb dan Ed Fogg untuk menyelidiki kasus ini bersama-sama.
Mereka melakukan wawancara terhadap para saksi, para guru dan petugas polisi.
Setelah melakukan penyelidikan selama-berhari-hari, mereka menyimpulkan kalau para saksi ini tidak merekayasa penampakan ini karena mereka menceritakan perjumpaan dengan makhluk yang sama walaupun tidak saling mengenal sebelumnya.
Kemudian Loren Coleman menyebut makhluk ini dengan sebutan Dover Demon. Media menyukainya dan makhluk itu pun mendapatkan nama resminya hingga sekarang.
Sampai saat itu, tidak ada yang pernah tahu identitas makhluk itu sebenarnya.
copas sebagian dri blog enigma
Setelah melakukan penyelidikan selama-berhari-hari, mereka menyimpulkan kalau para saksi ini tidak merekayasa penampakan ini karena mereka menceritakan perjumpaan dengan makhluk yang sama walaupun tidak saling mengenal sebelumnya.
Kemudian Loren Coleman menyebut makhluk ini dengan sebutan Dover Demon. Media menyukainya dan makhluk itu pun mendapatkan nama resminya hingga sekarang.
Sampai saat itu, tidak ada yang pernah tahu identitas makhluk itu sebenarnya.
copas sebagian dri blog enigma
thylacine
Salah satu tragedi besar abad kedua puluh adalah kepunahan harimau Tasmania, marsupial karnivora terbesar yang pernah hidup di abad modern. Binatang langka ini hanya ditemukan di daratan Australia, New Guinea dan Tasmania kepunahannya terutama disebabkan oleh serangan pemburu dan ekspansi dari pemukiman Eropa.
Harimau Tasmania bukanlah seorang kucing atau anjing, walau dari segi fisik sanagt mirip dengan anjing begitupun dengan ukurannya. Mungkin kekerabatannya dekat dengan hyena. Sementara bulu pendek dengan warna cokelat sampai coklat gelap paling banyak ditemui dan merupakan cirri-ciri umum dari marsupial ini, Ceri fisik lainnya yang menonjol adalah ada satu sampai dua lusin garis-garis gelap yang melintasi bagian belakangnya tubuhnya. Betinanya dan jantannya memiliki kantung di dekat susu. Betina memiliki empat puting susu .
Sebagai pemburu, harimau Tasmania lebih bergantung pada penglihatan dan suara dan juga bau dari mangsanya, namun sebenarnya harimau Tasmania tidak memiliki indra penciuman yang baik dan lebih mengutamakan mata sebagai salah satu alat berburunya. Harimau Tasmania dapat berkembang dengan baik dan mereka memiliki stamina yang kuat dan tak kenal lelah dalam memburu mangsanya. Mangsa yang bisa berlari cepat sekalipun akan dibuat kelelahan karena akan selalu diikuti oleh harimau Tasmania. Harimau Tasmania juga memiliki jangkauan rahang yang kuat besar dibandingkan harimau.
Punahnya Harimau Tasmania dimulai seiring dengan datangnya Dingo (anjing liar yang dijinakan) dan anjing liar ke Australia. Kedatangan orang Eropa dan pembebasan tanah semakin membuat ruang gerak harimau Tasmania terbatas. Tanah perburuan yang disukai dari harimau Tasmania termasuk hutan kayu putih, lahan basah pesisir dan padang rumput terbuka pada waktu itu telah bergeser menjadi lahan pertanian dan industri, Ribuan harimau Tasmania tewas di bawah senjata para petani, peternak dan pemburu bayaran karena dianggap merusak ladang dan memangsa ternak. Pada tahun 1920-an, penampakan harimau Tasmania terakhir yang diketahui ditembak mati pada tahun 1930. Beberapa berhasil diselamatkan di kebun binatang dan harimau terakhir yang diketahui meninggal di penangkaran tahun 1936.
Menurut standar internasional lima puluh tahun lebih telah berlalu tanpa satupun spesies harimau Tasmania yang ditemukan. Badan perlindungan hewan Internasional akhirnya memutuskan spesies ini dianggap telah punah pada tahun 1986. Meskipun demikian masih ada laporan penampakan, 1 atau 2 ekor hewan ini dan sisa kotoran dari Harimau Tasmania yang pernah ditemukan di bagian terpencil di Tasmania. Beberapa lembaga telah menawarkan hadiah besar bagi mereka yang berhasil menangkap spesies ini hidup-hidup. Bahwa terakhir pertumbuhan hutan tua Tasmania adalah tempat terakhir penampakan tersebut terjadi, penebangan yang terus menerus di daerah justru akan memupuskan peluang terakhir untuk menemukan Harimau Tasmania hidup-hidup.
Harimau Tasmania bukanlah seorang kucing atau anjing, walau dari segi fisik sanagt mirip dengan anjing begitupun dengan ukurannya. Mungkin kekerabatannya dekat dengan hyena. Sementara bulu pendek dengan warna cokelat sampai coklat gelap paling banyak ditemui dan merupakan cirri-ciri umum dari marsupial ini, Ceri fisik lainnya yang menonjol adalah ada satu sampai dua lusin garis-garis gelap yang melintasi bagian belakangnya tubuhnya. Betinanya dan jantannya memiliki kantung di dekat susu. Betina memiliki empat puting susu .
Sebagai pemburu, harimau Tasmania lebih bergantung pada penglihatan dan suara dan juga bau dari mangsanya, namun sebenarnya harimau Tasmania tidak memiliki indra penciuman yang baik dan lebih mengutamakan mata sebagai salah satu alat berburunya. Harimau Tasmania dapat berkembang dengan baik dan mereka memiliki stamina yang kuat dan tak kenal lelah dalam memburu mangsanya. Mangsa yang bisa berlari cepat sekalipun akan dibuat kelelahan karena akan selalu diikuti oleh harimau Tasmania. Harimau Tasmania juga memiliki jangkauan rahang yang kuat besar dibandingkan harimau.
Punahnya Harimau Tasmania dimulai seiring dengan datangnya Dingo (anjing liar yang dijinakan) dan anjing liar ke Australia. Kedatangan orang Eropa dan pembebasan tanah semakin membuat ruang gerak harimau Tasmania terbatas. Tanah perburuan yang disukai dari harimau Tasmania termasuk hutan kayu putih, lahan basah pesisir dan padang rumput terbuka pada waktu itu telah bergeser menjadi lahan pertanian dan industri, Ribuan harimau Tasmania tewas di bawah senjata para petani, peternak dan pemburu bayaran karena dianggap merusak ladang dan memangsa ternak. Pada tahun 1920-an, penampakan harimau Tasmania terakhir yang diketahui ditembak mati pada tahun 1930. Beberapa berhasil diselamatkan di kebun binatang dan harimau terakhir yang diketahui meninggal di penangkaran tahun 1936.
Menurut standar internasional lima puluh tahun lebih telah berlalu tanpa satupun spesies harimau Tasmania yang ditemukan. Badan perlindungan hewan Internasional akhirnya memutuskan spesies ini dianggap telah punah pada tahun 1986. Meskipun demikian masih ada laporan penampakan, 1 atau 2 ekor hewan ini dan sisa kotoran dari Harimau Tasmania yang pernah ditemukan di bagian terpencil di Tasmania. Beberapa lembaga telah menawarkan hadiah besar bagi mereka yang berhasil menangkap spesies ini hidup-hidup. Bahwa terakhir pertumbuhan hutan tua Tasmania adalah tempat terakhir penampakan tersebut terjadi, penebangan yang terus menerus di daerah justru akan memupuskan peluang terakhir untuk menemukan Harimau Tasmania hidup-hidup.
ahool
The Island of Java, formed mostly as the result of volcanic activity, is the worlds 13th largest island, and the 5th largest island of Indonesia. Java is one of the most densely populated regions on earth and with a population of roughly 124 million is also the most populated island in the world. It is because of this overpopulation that the rainforests of Java have all but disappeared in recent times, the Gunung Halimun National Park is one of the last remaining stretches of lowland forest on the island. What remains Java’s once great rain forests supports a wide array of wildlife including over 23 mammal species, over 200 bird species, over 500 forms of plant life and according to the native population of the forests is the home to a large unidentified winged creature known as the Ahool.
The Ahool, named after its call, a long ahOOOooool, is said to be a bat like creature, and is described as the size of a one year old child with a gigantic wing span of roughly 12 feet. It is reported to be covered in short, dark grey fur, have large, black eyes, flattened forearms supporting its leathery wings and a monkey like head, with a flattish, man like face. It has been seen squatting on the forest floor, at which times its wings are closed, pressed against the Ahool’s body, its feet appearing to point backwards. It is thought that the Ahool is a nocturnal creature, spending its days concealed in caves located behind or beneath waterfalls; its nights spent skimming across rivers in search of large fish upon which it feeds.
One account of the Ahool occurred in 1925 when naturalist Dr. Ernest Bartels, son of noted ornithologist M.E.G. Bartels, was exploring a waterfall on the slopes of the Salek Mountains when a giant unknown bat, the Ahool, few directly over his head. Two years later in 1927, around 11:30 pm, Dr. Ernest Bartels encountered the Ahool again, this time he was laying in bed, inside his thatched house close to the Tjidjenkol River in western Java, listening to the sounds of the jungle when he suddenly heard a very different sound coming from almost directly over his hut, this loud and clear cry seemed to utter, A Hool! Grabbing his torch Dr. Bartels ran out of his hut in the direction the sound seemed to be heading. Less than 20 seconds later he heard it again, a final A Hool! which floated back towards him from a considerable distance downstream. As he would recall many years later, he was transfixed on the sound, not because he did not know what produced it but rather because he did, the Ahool.
At one time, Bartels had suggested that perhaps the creature was not a bat, but some type of bird, possibly a very large owl, but this theory did not sit well with others and was greeted with passionate denials by his friends, who assured him in no uncertain terms that they were more than capable of distinguishing a bat from a bird.
Bartels accounts of the Ahool were passed down to cryptozoologist Ivan T. Sanderson by Bernard Heuvelmans, and after much research Sanderson concluded that the Ahool is a form of unclassified bat. Sanderson took special interest in the Ahool because he too had met with such a creature, but not in Java, his encounter took place in the Assumbo Mountains of Cameroon, in western Africa. Sanderson thought that the Ahool could be an Oriental form of the giant bat like creature he witnessed in Africa; this creature was known by the African natives as the Kongamato.
Some researchers have suggested that the Ahool may be a surviving population of pterosaur, a flying reptile thought to have gone extinct around the time of the dinosaurs, some 65 million years ago. Indeed the description of the Ahool does match what we currently know about pterosaur species, including large forearms supporting leathery wings. The majority of investigators seem to agree however that the Ahool is more than likely a form of unknown giant bat, looking to the creatures reported facial features as evidence against the flying reptile theory. A third, less popular theory, also based on the reported facial features of the Ahool is that this beast may be the worlds first reported case of a flying primate.
Regardless of which theory you may subscribe to it may only be a matter of time before we find out exactly what the Ahool is. With the continued destruction of Java’s rainforests the Ahool’s habitat continues to shrink which may lead to more encounters with the creature by modern man as we encroach further on its home. Unfortunately the destruction of the Ahool’s home may also lead to its extinction before we even get a chance to fully understand its identity.
The Evidence
There is currently no physical evidence to suggest the existence of a creature like the Ahool living in the rainforests of Java.
The Sightings
In 1925, naturalist Dr. Ernest Bartels, son of noted ornithologist M.E.G. Bartels, was exploring a waterfall on the slopes of the Salek Mountains when a giant unknown bat, the Ahool, few directly over his head.
In 1927, around 11:30 pm, Dr. Ernest Bartels encountered the Ahool again. Bartels was laying in bed, inside his thatched house close to the Tjidjenkol River in western Java, listening to the sounds of the jungle Bartels suddenly heard a very different sound coming from almost directly over his hut, this loud and clear cry seemed to utter, A Hool!
The Stats– (Where applicable)
• Classification: Avian
• Size: Roughly 12 foot wingspan
• Weight: Unknown
• Diet: Carnivorous, mainly fish
• Location: The Indonesian island of Java
• Movement: Flight
• Environment: Mountainous rainforest
The Ahool, named after its call, a long ahOOOooool, is said to be a bat like creature, and is described as the size of a one year old child with a gigantic wing span of roughly 12 feet. It is reported to be covered in short, dark grey fur, have large, black eyes, flattened forearms supporting its leathery wings and a monkey like head, with a flattish, man like face. It has been seen squatting on the forest floor, at which times its wings are closed, pressed against the Ahool’s body, its feet appearing to point backwards. It is thought that the Ahool is a nocturnal creature, spending its days concealed in caves located behind or beneath waterfalls; its nights spent skimming across rivers in search of large fish upon which it feeds.
One account of the Ahool occurred in 1925 when naturalist Dr. Ernest Bartels, son of noted ornithologist M.E.G. Bartels, was exploring a waterfall on the slopes of the Salek Mountains when a giant unknown bat, the Ahool, few directly over his head. Two years later in 1927, around 11:30 pm, Dr. Ernest Bartels encountered the Ahool again, this time he was laying in bed, inside his thatched house close to the Tjidjenkol River in western Java, listening to the sounds of the jungle when he suddenly heard a very different sound coming from almost directly over his hut, this loud and clear cry seemed to utter, A Hool! Grabbing his torch Dr. Bartels ran out of his hut in the direction the sound seemed to be heading. Less than 20 seconds later he heard it again, a final A Hool! which floated back towards him from a considerable distance downstream. As he would recall many years later, he was transfixed on the sound, not because he did not know what produced it but rather because he did, the Ahool.
At one time, Bartels had suggested that perhaps the creature was not a bat, but some type of bird, possibly a very large owl, but this theory did not sit well with others and was greeted with passionate denials by his friends, who assured him in no uncertain terms that they were more than capable of distinguishing a bat from a bird.
Bartels accounts of the Ahool were passed down to cryptozoologist Ivan T. Sanderson by Bernard Heuvelmans, and after much research Sanderson concluded that the Ahool is a form of unclassified bat. Sanderson took special interest in the Ahool because he too had met with such a creature, but not in Java, his encounter took place in the Assumbo Mountains of Cameroon, in western Africa. Sanderson thought that the Ahool could be an Oriental form of the giant bat like creature he witnessed in Africa; this creature was known by the African natives as the Kongamato.
Some researchers have suggested that the Ahool may be a surviving population of pterosaur, a flying reptile thought to have gone extinct around the time of the dinosaurs, some 65 million years ago. Indeed the description of the Ahool does match what we currently know about pterosaur species, including large forearms supporting leathery wings. The majority of investigators seem to agree however that the Ahool is more than likely a form of unknown giant bat, looking to the creatures reported facial features as evidence against the flying reptile theory. A third, less popular theory, also based on the reported facial features of the Ahool is that this beast may be the worlds first reported case of a flying primate.
Regardless of which theory you may subscribe to it may only be a matter of time before we find out exactly what the Ahool is. With the continued destruction of Java’s rainforests the Ahool’s habitat continues to shrink which may lead to more encounters with the creature by modern man as we encroach further on its home. Unfortunately the destruction of the Ahool’s home may also lead to its extinction before we even get a chance to fully understand its identity.
The Evidence
There is currently no physical evidence to suggest the existence of a creature like the Ahool living in the rainforests of Java.
The Sightings
In 1925, naturalist Dr. Ernest Bartels, son of noted ornithologist M.E.G. Bartels, was exploring a waterfall on the slopes of the Salek Mountains when a giant unknown bat, the Ahool, few directly over his head.
In 1927, around 11:30 pm, Dr. Ernest Bartels encountered the Ahool again. Bartels was laying in bed, inside his thatched house close to the Tjidjenkol River in western Java, listening to the sounds of the jungle Bartels suddenly heard a very different sound coming from almost directly over his hut, this loud and clear cry seemed to utter, A Hool!
The Stats– (Where applicable)
• Classification: Avian
• Size: Roughly 12 foot wingspan
• Weight: Unknown
• Diet: Carnivorous, mainly fish
• Location: The Indonesian island of Java
• Movement: Flight
• Environment: Mountainous rainforest
Langganan:
Postingan (Atom)













